Kisah Anak Pinggiran (Me with Father)

       Ayahku  

                  Masa kecil adalah kenangan yang tidak mungkin orang lupakan, apalagi kisah itu penuh dengan pelajaran. Bagaimana tidak?, masa kecil saya penuh dengan penderitaan bersama ayahku, aku pergi berladang di saat hari masih gelap-gulita tampa cahaya menyinari jalan. Namun, kami tetap melanjutkan niat yang membara di dalam dada seorang insan pinggiran yang penuh dengan penderitaan tekanan para pemegang amanah negara. Gemuruh angin pagi dalam suasana sepi menemani perjalanan menuju ladang kami yang butuh tenaga untuk bercocok tanam disana. Ada banyak hal yang aku dapatkan, saat Ayahku bercerita tentang ujian kehidupan dunia fana yang penuh dengan kepalsuan Aparatur Negara. 

               
               Menit berganti, detik berlalu dan akhirnya sampai juga diladang, secara tidak sadar bibir saya terucapap Alhamdulilah, kemudian Ayahku berkata :” Nak, lihatlah orang itu?”, aku menengok dan bertanya, “kenapa orang itu ?” jawab Ayah, dia adalah pembagi air (pengatur irigasi area persawahan) untuk petani, tahu kenapa ? melirik kita, karena kita berusaha mengairi area persawahan. Lanjut saya bertanya, “apa urusannya dia melihat kita dengan mengairi area persawahan ?” jawab Ayah : itulah sekelumit contoh perbuatan nyata mereka dalam menekan orang rendahan seperti kita ini, karena uang kantong yang ayah berikan kepadanya Cuma alakadar yang ayah punya. Mendengar jawaban itu aku tertegun dalam suasana kesal dan benci kepada perbuatannya yang menjajah rakyat jelata. Selesai bercerita ayahku langsung memegang perlengkapan bekerja dan memulainya dengan ucapan basmalah serta perasaan yang ikhlas beliau ayunkan cangkul untuk menggemburkan ladang yang baru saja selesai panen.

                Dengan sekuat tenaga ayahku, mengayunkan cangkul yang dengan tangan-tangan tua renta seakan tak berdaya namun semangatnya selalu membara hanya untuk anak-anaknya, sungguh luar biasa semangat beliau walupun tersiksa dengan keadaan, meskipun terjepit hutang tapi senyum bahagia melihat anaknya sekolah terus terpancarkan dalam sebaris bibir mutiara yang telah hilang harganya karena umur sudah diakhir masa. Ini nyata bukan sekedar bualan belaka, jika tidak percaya silahkan bertanya kepada mereka penderitaan yang lama, telah mereka hadapi di dunia fana, yang penuh dengan korupsi aparatur negara, serta penderitaan selalu dilimpahkan ke rakyat jelata.

               Di ladang, masih aku ingat ratapan air mata yang membuat hati teriris sembilu luka dalam dada saat melihat perbuatan nyata, aparatur negara kepada seorang yang tua renta dan tidak punya apa-apa, hanya sekedar uang untuk makan saja, namun bisa-bisanya mereka menganiayanya ? di depan mata seorang anak dari keluarga rakyat jelata. Tapi ayah ku menatap kelangit seakan ada harapan diatas sana dan berharap datangnya hujan yang lebat untuk mengairi sawah kita yang butuh air sebagai media penggembur ladang kami yang baru saja selesai panen. Dengan terbata-bata bibir terucap, ayah inilah kehidupan mereka ? seakan tidak punya tata krama kepada insan yang tidak berdaya, beliau merespon “ ini sekedar pemanasan dari perkataan yang membuat dada ini panas namun ingatlah selalu, perbuatan itu jangan kamu tiru dan jangan kamu menjadi seperti mereka namun jadilah orang yang selalu mengurangi beban rakyat jelata.

                     Sambil saya mencangkul diladang, saya berfikir tentang pekerjaan yang tidak tahu hasil pasti karena belum tentu ada keuntungan, dari hasil bertani yang jika di perhatikan pemerintah hanya mempersulit petani, dengan pupuk yang dikala dibutuhkan harga meningkat, saat ada hama obat-obatan sulit didapat, giliran panen harga penjualan hasil pertanian turun hingga modal tidak kembali. Wahai penguasa, tidakkah engkau perhatikan penderitaan rakyat jelata? yang penuh dengan keringat dalam bekerja hanya untuk memperoleh keuntungan yang tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan. Pagi berganti siang, akhirnya azan berkumandang dan pekerjaan kita mulai dihentikan serta kami siap-siap menghadap sang pencipta, dikala terik matahari tertawa dengan ganasnya sampai terasa menusuk didalam badan seorang anak remaja seusia seperti saya yang belum terbiasa terkena sinar mentari siang di waktu zuhur.

                   Setelah selesai sholat, hati ini masih tetap teringat perkataan beliau yang selalu menjadi penyemangat yakni teruslah sekolah walaupun ayah tidak punya apa-apa namun melihatmu sukses itu harapan yang ingin aku buktikan kepada kakekmu yang pernah dihina dulu oleh orang bercelana panjang( aparatur negara). Dan aku berdo’a, “ wahai pencipta alam semesta, aku datang dengan harapan dan rasa cinta, wahai penyubur hati yang gersang, aku mohon perlindungan dari kehinaan dunia, wahai pelindung keturunan adam, jadikan aku orang yang selalu berbakti kepada kedua orang tua ku, wahai tuhan seru sekallian alam ampunilah kesalahan mereka berdua sebagaimana mereka selalu memaafkan setiap kesalahan saya kepadanya, dan menutupnya dengan do’a sapu jagat.

               Kemudian, kaki ini tidak sabar untuk beranjak ke tempat istirahat, dengan keletihan dan badan terasa berat tidak mampu melanjutkan pekerjaan, badan ini akhirnya aku baringkan dikamar tidur yang penuh dengan debu serta sarang laba-laba yang selalu setia menemani kehidupan kami rakyat jelata yang kehidupan kami ini penuh dengan penderitaan. Namun itu semua belum bisa membandingkan kesulitan hidup orang tua yang rela tidur di tanah beralaskan tikar tua penuh debu duka cita, bagaimana tidak? Perjuangan bercocok tanam di sawah tidak dihargai, hasilnya dibeli dengan penuh kerugian, tidak dijual menjadi tanggungan karena modal bercocok tanam selalu utang. Wahai penguasa, lihatlah kami seorang anak desa dengan ayahnya bersusah-payah mengolah ladang hanya untuk biaya kehidupan, bukan untuk bersenang-senang seperti yang telah engkau tampakkan didalam setiap tugas yang sering engkau berdalih dengan sebutan study banding.

                    Kami disini butuh keadilan, kesejahteraan dan keamanan dari pengrusak citra kehidupan( koruptor), dari pembunuh rakyat secara nyata dengan otaknya yang penuh fikiran iblis. Walaupun demikian kenyataan hidup, namun sungguh luar biasa semangat hidup seorang insan yang tua renta terlihat tidak berdaya namun semangat kerja jauh lebih besar dari anak remaja, tidak percaya coba kalian saksikan ayah saya yang udah mendekati lanjut usia, tapi semangat membiayai anak-anaknya untuk sekolah tetap membara.

                   
                    Itu terlihat dalam usaha mencari nafkah untuk keluarga yang saat itu, suatu peristiwa yang tidak bisa saya lupakan yakni ketika beliau bekerja walaupun hujan lebat terus menghantam tubuhnya yang tua renta tak berdaya. Beliau tersenyum bahagia meskipun kehidupan ini tidak adil menurut penglihatan saya, dari situlah rasa kasihan tergugah dalam hati seorang anak desa yang masih belum mengenal kehidupan dengan sebenar-benar kehidupan, sebab aku belum merasakan penderitaan ketika jauh dari keluarga, disaat hati sepi dari cinta orang tua.

                       Umur ku bertambah seiring waktu berjalan, pola fikir saya lebih berkembang disaat aku mulai merasakan kehidupan yang sebenarnya ketika pertama kali saya merasakan jauh dari keluarga. Hati terasa sepi, tidak ada yang menanyai keadaan, tak seorangpun perhatian, bahkan kebanyakan mereka menghujat diriku yang lagi kesepian. Dikala perenungan saat rindu pada keluarga, akhirnya aku sadar akan kesalahan aku kepada beliau yakni ketika bersikap manja, banyak mengeluh ditambah lagi beliau sedang tertekan keadaan yang menyulitkan kehidupannya, namun semua itu tidak menyurutkan semangat untuk maju kedepan merobohkan jurang-jurang kemiskinan yang panjangnya tidak sama dengan tembok besar cina namun tidak nampak tapi terasa dalam setiap perjuangan seorang insan yang butuh kesuksesan.

                         
              Disini aku masih menanti jawaban pasti dari usaha insani yang aku merasa belum cukup untuk berbakti kepada beliau ayah bundaku yang kulit-kulit indah beliau dimasa remaja telah terkelupas kusam dari keindahannya sungguh sedih aku melihat tapi aku belum bisa berbuat sesuatu yang merubah keadaan ayahku yang penuh dengan kelelahan setiap hari tampa ketinggalan dari aktivitas seorang insan yang masih muda penuh dengan tenaga.

             Namun semangat kerja tak kalah sama mereka yang masih muda-muda bahkan mereka kalah didalam kegigihan, keuletan dan etos kerja yang kompeten terutama dibidang bangunan. Diakhir cerita penulis ingin sampaikan, kepada orang tua saya sebaris sair yang aku tuliskan dalam bait-bait kalimat yang menyatu-padu membentuk makna jamak sebagai gambaran nyata kehidupan saya yang selalu membutuhkan kasih sayang engaku duhai insan yang sangat bijaksana.


IBU & AYAHKU


Begitu dalam lautan

Tidak mampu membandingkan

Berapa banyak daun berjatuhan

Tidak bisa menyamakan

Perjuanganmu sungguh berat

Antara mati dan sekarat

Engaku banting tulang mencari makan

Aku hanya duduk sendiri terpaku diam

Hingga dirimu merantau kenegri sebrang

Tapi aku hanya bisa menghabiskan uang

Maafkan aku yang tidak tahu jalan

Berbakti kepada ayah & bundaku

Aku hanya bisa membalasmu

Dengan menyerahkan baktiku


hanya untuk mu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s